Burung Merak - Maria A.Sardjono

 

SINOPSIS:
Sejak awal perkenalannya dengan Wibisono, Ana telah mempunyai firasat bahwa laki-laki itu memandang rendah padanya, meremehkannya, dan tidak bisa dipercaya. Karenanya ia ingin melepaskan diri dari daya pikat lelaki itu. Namun sayang, jerat-jeratnya terlalu kuat dan terlalu liat. Sayangnya pula, Ana tidak pernah menyangka bahwa Wibisono memang berniat menjeratnya untuk membalaskan dendam keluarganya.

”Buruk merak itu harus kutangkap,” begitu berulang kali Wibisono berkata kepada dirinya sendiri dengan perasaan geram. Lelaki itu menjulukinya ”buruk merak”, burung berbulu indah yang angkuh. Burung merak yang munafik, karena Wibisono merasa gadis itu sok suci dan sok jual mahal padanya.

Dan Wibisono yang sudah dibutakan dendam itu tidak bisa melihat lagi dengan hati yang jernih bahwa Ana sesungguhnya memang gadis baik-baik yang selalu berhati-hati dalam pergaulannya dengan laki-laki. Ana sangat berbeda dengan saudara-saudara perempuannya yang lain. Maka ketika dendam telah dituntaskan, penyesalan pun menyergap kuat dirinya. Namun nasi telah menjadi bubur.
Sejujurnya di awal saya berharap banyak akan novel ini, mengingat saya sudah lama tidak membaca novel-novel penulis lama seperti ini. Ini merupakan novel pertama karya Maria A. Sardjono yang saya baca, walaupun tidak terlalu kecewa, saya tetap akan mikir-mikir sebelum membeli buku-nya lagi.

Baiklah akan saya urai hal yang sayasukai di buku ini. Pertama tatanan kata dan bahasanya cukup baku dan sesuai dengan ejaan yang benar. Sayatidak bilang bahasanya menjadi kaku karena itu, tapi saya justru merasa nyaman dengan bahasa itu.

Tidak seperti novel penulis baru sekarang ini yang sering menyerempet ke penggunaan bahasa asing, bahkan terkadang saya melihat terlalu banyak penggunaan bahasa asing. Terkadang terlintas di pikiran saya kalau bukan kita yang membudayakan bahasa sendiri, siapa lagi?

Selain itu, novel ini cukup berisi karena dia menceritakan tentang sejarah borobudur dan kehidupan agama di Pulau Jawa. Jadi novel ini tidak dangkal.

Nah, yang tidak saya sukai adalah banyaknya pengulangan. Pengulangan istilah seperti orang yang perpapasan di atas kapal, juga pengulangan cerita tentang hubungan Ana dan Wibi. Misal Wibi bercerita pada ibunya menggunakan dialog langsung bagaimana hubungannya dengan Ana, padahal sebagai pembaca yang sudah mengetahuinya, saya merasa tidak perlu membaca kisah itu lagi.

Walaupun akhir kisahnya sudah ketahuan sejak awal, saya menaruh kecewa karena cara mereka mengakhirnya terlalu singkat. Saya berharap kejadian Wibi yang menodai Ana itu ada di tengah cerita, tapi ternyata ada di bagian akhir.

Ya.. walau kecewa, tapi tidak ada salahnya baca novel ini.

Dua dari lima bintang untuk buku ini..

Cheers,

@yuuCaaaa



No comments:

Post a Comment