Jan 31, 2014

The Wedding Girl - Sophie Kinsella




Add to Goodreads

At eighteen, in that first golden Oxford summer, Milly's best friends were Rupert and his American lover Allan. When Rupert suggested that she and Allan should get married, just so that Allan could stay in the country, it all seemed just a bit of fun -- and to make it seem real she dressed up in cheap wedding finery and posed on the steps of the registry office for photographs.

Ten years later, Milly is a very different person. Engaged to Simon -- who is wealthy, serious, and believes her to be perfect - she is facing the biggest and most elaborate wedding imaginable. Her dreadful secret is locked away so securely she has almost persuaded herself that it doesn't exist -- until, with only four days to go, her past catches up with her.

Setelah membaca The Wedding Night lalu The Wedding Girl, saya jadi kepikiran.. Ini saya kok jadinya kayak read a long karya Sophie Kinsella? Sorry to say, because it become a habit. Sekali saya suka sama satu penulis, saya jadi kepo sama karyanya yang lain... Dan karena ini adalah ebook, jadi huntingnya makin gencar dan langsung ajadi masukin ke HP semuanya, jadi kalau iseng ya bacanya ebook doang.. :-p

Bagi saya, buku yang baik itu adalah buku yang bisa menghibur saya, bisa bikin saya ketawa atau tersenyum, kalau tidak bisa, maka buku itu harus memberikan suatu nilai yang bisa saya simpulkan.

Milly dan Simon adalah gambaran pasangan yang sangat sempurna. Keduanya memiliki penampilah yang diatas standart dan juga kepintaran yang diatas standart juga tentunya.

Simon sangat menyukai Milly yang pintar dan memiliki ketertarikan yang sama dengan dirinya. Milly selalu bisa diajak ngombrol tentang politik, ekonomi dan sejenisnya. Tapi Simon tidak pernah tahu bahwa Milly harus merubah kebiasaannya agar bisa menyamai standar Simon. Milly menjadi seorang wanita yang bukan dirinya.

Milly dan Simon sedang dalam masa menanti hari pernikahan mereka, sehingga mereka berdua hanya disibukkan oleh serangkaian acara persiapan pernikahan. Ibu Milly, Olivia, adalah sosok yang selalu memperhatikan tiap detai dari keperluan acara pernikahan Olivia. Dia menginginkan acara ini tampil sempurna, hingga dia tidak sadar bahwa dia terlah terlalu berlebihan mempersiapkan pernikahan ini hingga dia lupa akan yang lainnya.

Ketika Milly dan Simon akan melalukan sesi pemotretan, Milly bertemu dengan sang fotografer yang ternyata mengenal Milly. Dia ingat kalau sepuluh tahun yang lalu juga pernah mengambil foto Milly dengan gaun pengantin. Dan juga pengantin pria-nya.

Sejak saat ini, Milly menjadi gelisah, dia bingung... Dia tidak ingin pernikahannya ini berantakan karena kejadian sepuluh tahun yang lalu. Milly menceritakan masalah ini kepada Good Mothernya, Esme. Tapi Esme tidak bisa banyak membantunya.

Setelah bercerita dengan kakanya, Ishabel, Milly mendapatkan ide untuk mencari tahu status pernikahannya. Karena seingatnya dia sudah pernah menandatangai surat cerai.

Dua hari menjelang penikahannya, Milly pergi ke London dengan kereta untuk menemui Rupert. Rupert yang sudah menikah dan merasa hidupnya nyaman, langsung mengalami perubahan hidup setelah Milly menemuinya.

Rupert yang dulu mencintai Allan, suami Milly, berniat untuk membantu Milly mencari Allan. Dan Milly kembali ke rumahnya dengan kenyataan dia dan Allan belum bercerai.

Sesampainya di rumah Milly sudah disambut oleh kedua orang tua yang menantikan penjelasannya tentang penikahannya sepuluh tahun yang lalu.

Harus diakui, buku yang tebalnya tidak sampai 400 halaman ini, sangat 'berisi', karena karakter di dalamnya tidak hanya banyak, tapi setiap karakter punya peperangannya masing-masing. Ayah Milly, Ibunya, Kakaknya, Simon, ayah Simon, Rupert, istri Rupert, Esme, dll.

Walaupun kisah cinta Simon dan Milly tidak terlalu menonjol tapi perjalanan mereka mengenal pasangannya sebelum mereka menikah berjalan begitu dramatis dan menguras emosi.

Bagi saya pribadi, pasangan yang mencuri perhatian saya adalah kakak Milly dan ayah dari bayi yang dikandungnya.. ;))
“Knowing a person isn't like knowing a string of facts. It's more like...a feeling.” 


1 comment:

  1. Ulasan yg menarik, saya jd ingin beli bukunya

    ReplyDelete