Aug 28, 2013

Seberapa Pantas kah Kau (Buku) untuk Ku Beli?


 

Hallo, book lover!!

Permisi numpang tanya, kira-kira kamu pada pengen punya perpustakaan pribadi di rumah pribadi seperti gambar di atas?

Woow.. saya yakin pasti banyak yg sedang mengangguk-angguk saat membaca pertanyaan itu.

Sama seperti kalian, saya juga mau punya perpustakaan sendiri. Tapi belakangan ini saya meragukan pertanyaan ini. Kenapa? 


Berdasarkan pengalaman yang belum sampai tiga tahun ini. Em.. jadi ceritanya semenjak punya blog buku ini, saya mulai mengoleksi buku di kamar. Nah, karena saya ini anak kosan dan tinggalnya suka pindah-pindah, buku koleksi saya dulu sering bercecer entah dimana. Dan selama dua tahun lebih saya sudah menetap di satu kosan, jadi kesempatan untuk menimbun buku lebih banyak. 

Walaupun belum punya lemari buku sendiri, tapi bagian atas lemari pakaian saya adalah tempat yg cantik buat menyimpan mereka. Awalnya saya gemar sekali berburu diskonan untuk memenuhi timbunan saya. Sampai akhirnya saya hanya bisa memandangi buku itu dengan bingung. 

Nanti kalau pindahan bagaimana ya? 
Mungkin banyak yg bilang ntar pas mau pindahan di jual saja. 
Nah ngomong masalah jual, pasti buku itu harganya udah turun miniman 30%-50% dari harga beli kita sebelumnya. Emm.. sedikit sayang rasanya.

Ah.. saya suka iri dengan para blogger buku yang sering banget posting novel-novel terbaru, Indonesia terutama, how lucky they can have that money to buy that book without any regrets after then. Terkadang saya berfikir kenapa untuk diri sendiri pelit?

Tapi lama-lama saya berfikir, emang buku itu layak ya dengan harga segitu? Rata-rata novel lokal dibandrol dengan harga 40ribu-60ribu. Dengan kertas; berdasarkan koleksi saya, 2-3 tahun sudah mulai menguning; lalu *karena saya mostly bukan tipe orang yang re-read* saya jarang membaca ulang buku itu. Akhirnya setelah dibaca buku itu hanya di situ menumpuk atau jadi giliran di kosan. 

Hal itu tidak akan terlalu masalah bila saya puas dengan isi ceritanya. Tapi dari novel Indonesia/terjemahan yang ada di tumpukan saya, saya cenderung lebih puas dengan novel terjemahan dan yang ternyata ebook nya bertebar di mana-mana.
 
 Sekali lagi, ini mungkin sikap kikir saya yang berlebihan ataukah ada yang berpikiran sama dengan saya? Bahkan buku yang kamu suka, dengan rating 4-5 seberapa sering kamu mau re-read, sementara timbunan yang belum kamu baca makin bayak? Lalu apa yang kamu lakukan dengan buku-buku yang sudah kamu baca itu?

Lalu ada pertanyaan lain, kalau tidak begitu bagaimana saya memuaskan hobby saya membaca buku?
Em.. iya juga sih.. karena ini adalah hobby jadi walaupun bersalah, tapi pasti bakalan rela ngeluarin uang untuk buku. :)

Belakangan ini saya lebih senang berlama-lama baca buku di toko buku dari pada membeli buku di toko buku. Karena belakangan ini saya dilanda kekecewaan terhadap isi buku tsb, terutama novel-novel romantis yang bukan terjemahan. Apa mungkin saya kehilangan rasa cinta pada genre ini atau memang kualitasnya semakin menurun? Apakah ada yang merasakan hal yang demikian?

Hal-hal ini yang terkadang membuat saya berfikir berkali-kali sebelum melangkahkan kaki ke toko buku dengan discount besar. Terakhir saya ke Rumah Buku di bandung, saya hanya membeli satu komik hanya sebagai penebus 'udah ke tokbuk kok gak beli apa-apa?'. Sayangnya di situ tidak ada novel yang sudah di buka segelnya, kalau gak mungkin saya bakalan lebih lama di sana.

Bahkan saya melewatkan tumpukan novel dari JL yang biasanya langsung saya comot tanpa memandang bandrol. Karena alasannya buku-buku itu hanya berakhir begitu saya di tumpukan, setelah dibaca, tanpa pernah di sentuh lagi. Kalau dipikir-pikir mau di simpan sampai tua, tidak yakin buku itu tidak akan bercecer dalam prosesnya menuju 'rumah'.

Hal lain adalah buku JL ataupun terjemahan lainnya, saya lebih suka baca versi ebook, yang mana lebih murah (gratis) dan tidak kenal istilah 'lapuk' atau rusak. Tapi jujur saja bau kertas itu lebih asyik dari pada layar sentuh. 

Maksud posting saya adalah bertanya mana tau ada yang punya masukan atau pengalaman, buku-buku seperti apakah yang akan dengan rela kalian beli dengan merogoh kocek walaupun tahu buku itu hanya akan berakhir di timbunan?

Apa yang akan kalian lakukan dengan tibunan (yang sudah dibaca) tersebut kedepannya?
Kalau saya pribadi, selain yang paling faporit (10-20 buku) mungkin akan saya jual atau kalau ada event akan saya sumbangkan (seperti di event DriveBooks kemarin saya hanya bisa bawa 20 buku untuk di sumbang, berat sih.. )

Bagi kalian yang pernah baca ebook, kalian akan lebih pilih yang mana? E Book or rEal Book? Kalau bingung kira-kira berapa persen kan hatimu cenderung ke ebook?
Kalau saya 85% sudah lebih cenderung ke ebook. Untuk mengobati kerinduan saya pada novel bahasa, saya lebih memilih berdiri 2-3 jam di toko buku untuk baca yang gratisan. 

Lalu bagaimana dengan kamu? adakah yang mau berbagi pengalamannya?

NB: tolong judulnya di baca sambil bernyanyi... :)

3 comments:

  1. Halo Yuyu :)

    Buku yang aku rela beli sampe ngerogoh kocek itu :
    - buku karangan pengarang yang emang favorit aku. Kalau aku belum pernah baca karya dia, aku akan baca versi ebooknya. Kalau suka, ya aku akan beli paperbacknya. Ada perasaan tersendiri lah pokoknya kalau punya versi bukunya
    - buku dengan genre favorit. Ini memudahkan aku dalam membeli. Jadi walau ada diskon gede2an, lumayan bisa nahan diri
    - buku seken. Kalau ini sih kadang ga pake mikir hahaha

    Untuk timbunan, aku belum kepikiran. Kalau aku ga suka, biasanya aku bikin giveaway, kukelompokkan per paket, buat hadiah GA.

    Ebook or real book? Dua - duanya. Kalau mood baca ebook ya ebook, mood baca buku ya baca buku. Syukurlah sampai sekarang masih ada rejeki buat beli ^_^

    ReplyDelete
  2. loh katanya pgn bikin perpus pribadi ky gambar diatas dgn buku bejibun? Kok lalu malah bingung dgn timbunan buku? aneh. Yg namanya perpus pasti bakal banyak timbunan buku donk. Trus kalo dijualin ato disumbangin mulu kpn bikin perpusnya cb? Aneh.

    ReplyDelete
  3. buku yang pantas dibeli ya.....
    1. buku yang menurutku ngasih kesan yang kuat
    2. buku yang sarat gizi/ hikmah, baik fiksi maupun nonfiksi. Artinya: teenlit tidak termasuk pilihan
    3. buku dari penulis yang keren, ga harus favorit

    ReplyDelete